Saturday, May 16, 2015

Bersikap Tawadhu'

"Makin Berisi, Makin Merunduk" 

Itulah ungkapan yang biasanya ditujukan kepada seseorang yang mulia. Ya, seseorang yang sebenarnya memiliki harga diri yang tinggi, memiliki kualitas yang mumpuni, memiliki kemampuan dan skill yang luar biasa, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain, namun di hadapan manusia merendahkan dirinya, tidak merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Itulah orang tawadhu'.

Rasulullah bersabda "Tiada seorang pun yang berlaku tawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan kedudukannya. Dan tiada seorang pun yang ambisi terhadap ketinggian di dunia, melainkan Allah apsti akan menghinakan dan merendahkannya." (Al Hadits)
Hadits diatas dilatarbelakangi oleh kejadian dimana unta Rasulullah yang bernama Al-'Adhaba kalah balapan dengan unta milik Badui, lalu sahabat menjadi jengkel karena unta tersebut sebelumnya tidak pernah kalah.

Wahai saudaraku, tawadhu'lah, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu. Apabila engkau menghendaki ketinggian, maka Allah akan merendahkamu. Hiduplah di tengah manusia dengan rendah hati dan tidak merasa tinggi. Ingatlah bahwa semua ini adalah milik Allah, semua yang kita miliki berhak Allah cabut kembali bahkan apabila Allah berkehendak kita tidak memiliki apa-apa lagi, maka Allah dapat melakukannya. Jangan merasa hebat, jangan merasa menonjolkan diri, apalagi meremehkan saudaranya sesama muslim. Karena Rasulullah bersabda :

"Cukuplah seseorang itu disebut berbuat jahat apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim" (HR Muslim)

Subhanallah, kita telah berbuat jahat, telah menjadi penjahat apabila kita meremehkan saudara sesama muslim. Karena itu jadilah orang bijak. Dimana apabila dia bertemu siapapun, dia merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Seperti perkataan seseorang "Apabila kamu bertemu orang yang lebih muda dari dirimu, katakanlah 'sungguh orang ini lebih sedikit berbuat dosa dibandingkan aku'. Namun apabila kamu bertemu orang yang lebih tua darimu, katakanlah 'sungguh orang ini telah mendahuluiku dalam beramal dan berbuat kebaikan'"

Lihatlah bahwa Allah juga berfirman dalam banyak ayat dengan makna yang sama, pada salah satu ayat yang artinya adalah sebagai berikut :

".....Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid : 23)


Saudaraku, bisa jadi orang yang engkau remehkan adalah singa perkasa, yang nilainya di mata Allah sebanding dengan seluruh manusia di bumi yang seperti dirimu !
Sebagaimana sabda Rasulullah :
Ketika itu beliau bertanya kepada para sahabat di sampingnya tentang seorang lelaki yang lewat dihadapannya, "Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?" Maka mereka menjawab "Orang itu layak, apabila meminang diterima pinangannya, apabila berkata didengar perkataannya, apaila memerintah ditaati perintahnya". Kemudian ada seseorang lain yang lewat bajunya lusuh, penampilan tidak menarik perhatian, lalu beliau bertanya kembali "Apa pendapat kalian tentang orang ini ?" Lalu mereka menjawab "Orang itu pantas, jika berbicara tidak didengar perkataannya." Lalu Rasulullah bersabda "Orang itu lebih baik dari sepenuh bumi semisal orang tadi" (HR Bukhari)

Masya Allah ! Berkata para ulama dan fuqaha "Tidak ada dua jenis sesuatu yang sebanding dengan seribu atau beribu-ribu dengan yang lain kecuali pada manusia. Terkadang seorang manusia bisa sebanding dengan sepenuh bumi orang yang sejenisnya.
-------------------------------------------

Saudaraku, karena itulah betapa pentingnya bersikap tawadhu di hadapan manusia. Ingatlah Allah menciptakan manusia berbeda-beda, terdapat kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Maka janganlah melihat kekurangan orang dan melihat kelebihan diri sendiri, tetapi lihatlah kekurangan diri kita dan lihat kelebihan orang lain, sehingga kita menjadi tawadhu', dan Allah pun akan mencintai kita dan meninggikan derajat kita dihadapan para makhluknya, in syaa Allah.

Wallahu a'lam

Dikutip dari buku Tarbiyah Jihadiyah jilid 1, karya DR. Abdullah Azzam dengan tambahan

Thursday, May 7, 2015

Tadabbur Surat Al-Furqan ayat 15

Pada surat Al-Furqan Allah berfirman,

 قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚكَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا

Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?"
(QS Al-Furqan : 15)

Pada ayat ini, Allah mengatakan surga menjadi tempat kembali untuk kita. Tempat kembali maksudnya adalah sebelumnya kita pernah berada di tempat tersebut, kemudian pergi dari tempat tersebut dan akhirnya kembali lagi ke tempat tersebut.
Lalu mengapa tempat kembali ? Apakah kita pernah ke surga lalu melakukan perjalanan ke bumi ?

Ingatlah saudaraku bahwa asal mula manusia adalah dari surga, yaitu nabi Adam 'alaihissalam yang bersama Hawa berada di surga, sebelum kemudian digelincirkan oleh setan
untuk memakan pohon terlarang.

 قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Kami berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Al-Baqarah : 38)

Lalu mengapa kita akan kembali ke surga, sedangkan kita hanya keturunan beliau ?

Pada surat Al-A'raf Allah berfirman.

"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS Al-A'raf : 172)

Sehingga dari ayat ini, Allah menyatakan bahwa kita berasal dari tulang sulbi nabi Adam dengan fitrah bahwa sebenarnya kita islam dan kita sudah bersaksi kepada Allah
di alam ruh bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kita tidak akan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sehingga memang semua manusia asal mula adalah dari tulang sulbi Adam, sehingga sebelumnya kita berada di surga.

Maka kesimpulannya adalah fitrah manusia adalah berada di surga. Itu tempat asal dan tempat kembali kita. Kita harus berusaha untuk kembali ke surga sebagai tempat persinggahan terakhir. Sehingga dunia sebenarnya bukan tempat yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Persis seperti apa yang Rasulullah katakan,

Dari Abdullah bin Mas’ud , beliau menceritakan bahwa Rasulullah tidur di atas tikarnya. Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia. Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

“Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir  yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].


Hadits diatas mirip sekali seperti kasus dimana orang yang sedang dalam perjalanan lalu akan kembali lagi ke tempat asalnya. Maka berbekallah saudaraku dengan bekal taqwa. Karena perjalanan untuk kembali ke surga sangat berat. Terlalu banyak rintangan yang akan menghadang. Hanya orang tertentu yang dapat melewatinya.

Rasulullah juga bersabda,

“Jadilah engkau di dunia ini layaknya seorang asing atau penyeberang jalan.” [H.R. Al-Bukhari dari Ibnu Umar].

Sehingga saudaraku, marilah kita mengubah mindset kita bahwa dunia bukanlah tempat abadi. Ini hanya persinggahan sebentar, sangat sebentar menuju akhirat.

Dunia adalah tempat beramal, dan di akhirat tempat menuai hasil usaha kita di dunia. Maka mari bersama-sama menuju ke tempat kembali kita yang abadi di akhirat, surga.

Wallahu a'lam

Sunday, May 3, 2015

Dilema Bank Syariah dan Perlunya Kesadaran Masyarakat Muslim


Oleh : Pak Suryanta
13 Rajab 1436 H bertepatan 2 Mei 2015
Kelas EUIS DFC 4
(Redaksi dengan beberapa tambahan)

Riba telah menjadi gaya hidup dari masyarakat. Bahkan bank syariah pun sulit menerapkan ekonomi islam secara utuh. Mengapa ?
1. Karena dampaknya tidak terasa, lihatlah betapa banyak orang yang menggunakan riba atau istilah kerennya 'bunga' tetapi akibat atau efeknya tidak terasa langsung
2. Sulit untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan keuntungan yang dijanjikan oleh bank syariah sebagai bank yang ingin menerapkan sistem ekonomo islam tidak menjanjikan keuntungan sebesar keuntungan yang dijanjikan oleh bank konvensional, sehingga orang yang 'lebih mencintai dunia' lebih memilih bank konvensional ketimbang bank syariah.

Padahal telah jelas, dalam islam riba sangat diharamkan dan betapa besarnya dosa yang akan diperoleh akibat memakan riba.

Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al Baqarah: 275)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)

Lihatlah betapa besar dosa riba, namun karena itu dianggap sudah biasa dan menjanjikan keuntungan besar bagi para 'pecinta harta' maka orang dengan mudah melakukannya tanpa memikirkan akibatnya
Alhamdulillah kita patut bersyukur karena telah ada bank muamalat yang menginisiasi bank syariah yang berusaha menerapkan sistem ekonomi islam, begitu pula diikuti oleh bank-bank konvensional lain yang 'mensyariahkan' dirinya. Namun tetap saja, bank - bank yang berusaha menerapkan syariat islam tersebut masih belum bisa menerapkan sistem syariah secara sepenuhnya.

Hal ini dikarenakan belum banyak orang yang menggunakan bank syariah. Mengapa hal tersebut terjadi ?
1. Margin yang ditetapkan bank syariah 'lebih besar' daripada bank konvensional.
Hal ini dikarenakan masih sedikit masyarakat muslim yang menggunakan bank syariah. Karena sedikitnya masyarakat yang menggunakan bank syariah, maka omzet yang diperoleh pihak bank kecil dan mengakibatkan biaya operasi yang sangat besar. Hal ini diawali dari dana yang dihimpun masyarakat sangat kecil karena lebih sedikit yang menggunakan bank syariah.
2. Berkaitan dengan hal diatas, karena pihak bank tentunya tidak ingin rugi, maka untuk menyeimbangkan hal tersebut margin yang ditetapkan bank syariah akan lebih besar. Dan bank syariah masih menggunakan beberapa cara jual beli yang dalam islam tidak diperbolehkan.

Lalu bagaimana cara untuk mengatasi hal ini, agar bank syariah dapat 100% dapat menggunakan sistem ekonomi islam ?
1. Pencerdasan dan komitmen masyarakat di bidang syariah.
Kita perlu mencerdaskan masyarakat yang mungkin masih belum tau atau kurang peduli tentang sistem jual beli riba, walaupun memang menjanjikan keuntungan lebih dibandingkan bank syariah, namun tentunya hal tersebut akan merugikan kita di akhirat, walaupun di dunia sedikit sekali lebih menguntungkan
Perlunya mengajak masyarakat muslim dalam membangun sistem perekonomian syariah, dengan motto TAU-PAHAM-KOMITMEN
hal ini akan membuat banyaknya masyarakat muslim yang menggunakan bank syariah, dan tentunya akan membuat bank syariah dapat leluasa untuk menerapkan sistem syariah 100%
2. Unit kecil dan percontohan
Perlunya kesadaran dari sebagian warga muslim yang memiliki kepedulian tinggi dan modal besar untuk membuat unit-unit kecil sebagai percontohan atau pemrakarsa untuk menerapkan sistem ekonomi islam 100%
Alhamdulillah telah terlaksana salah satu percontohan yang benar-benar hati-hati dalam menerapkan sistem syariah islam yaitu BMT Bintaro dengan bekerja sama dengan BSM yang dibina langsung oleh satu-satunya doktor dalam bidang muamalah dari Indonesia, yaitu Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi.
Saat ini diperlukan BMT Bintaro dan penanam modal lainnya agar kita dapat menerapkan sistem syariah dengan baik.


"Apalah arti harta yang banyak di dunia, apabila di akhirat kita tidak mendapat apa-apa. Bangun islam dengan menguatkan pondasi ekonomi syari'ah, masyarakat sejahtera bahagia dunia dan akhirat"

Wallahu a'lam bisshawab.

Wednesday, March 25, 2015

Teknik Presentasi

Tulisan ini merupakan rangkuman seminar softskill di ITB yang diadakan oleh BCA, membahas mengenai bagaimana cara melakukan presentasi dengan baik, sehingga dapat meningkatkan softskill sebagai pembeda antara kita dengan orang lain. Semoga Bermanfaat.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------


Dalam teknik presentasi, terdapat  3 pilar utama, yaitu :

1. Self mastery (menguasai diri)
Terdapat 4 poin penting penguasaan diri saat presentasi, yaitu :

a. Position (Posisi tubuh)
Posisi tubuh harus :
-open stance (terbuka, berani, rileks, jangan tegang)
-forward lean (sesekali condongkan badan ke depan, apabila memungkinkan ada interaksi seperti sentuhan kecil ke audiens)
-no frozen in one spot (tidak monoton posisi, keep moving. hal ini digunakan agar audiens tidak ngantuk. tapi gerak jangan terlalu banyak)
Mengapa penting posisi tubuh saat presentasi ?
-Being in the moment, artinya audiens harus merasa bahwa presenter hadir di tempat. bukan hanya hadir fisik,tetapi juga atensi/perhatian audiens. presenter harus dapat dilihat oleh semua audiens
-Build connection, artinya bangun dan ambil koneksi dan perhatian audiens, sehingga audiens merasa terkoneksi dengan baik. Bila makin terkoneksi dengan audiens, maka kita akan lebih mudah mengambil hati audiens (PENTING)

b. Hand Gesture (gerakan tangan)
Mengapa penting hand gesture ?
-memperjelas kata-kata, sesuatu yang ingin dijelaskan
-menekankan poin-poin penting
-tangan di sisi tubuh akan membuat kita terlihat kaku, formal, dan agak aneh
Gerakan/isyarat tangan harus :
-mengandung arti - arti tertentu, jangan tanpa makna
-gunakan dengan antusias
-bila menunjuk, gunakan telapak tangan terbuka (universal presentation), hindari dengan telunjuk atau jempol kecuali kondisi tertentu
-hindari gerakan berulang, karena tidak ada arti dan membosankan
'
c. Eye Contact (Kontak Mata)
Merupakan komunkasi 2 arah, pesan akan dipahami audiens, sebagai umpan balik presenter dan getting attention audiens
Lihat audiens, bila banyak maka lihat ke tengah - tengah bagian tersebut
Kontak mata harus :
-tidak melihat pada satu titik, lihat mata audiens agar koneksi dengan audiens terbentuk, dan audiens tidak bosan
-lihat antara mata dan hidung, hindari lihat bagian tubuh yang sensitif dari audiens/listener
Hindari kontak mata lemah (tidak ada relasi, tidak ada umpan balik, terlihat menghindar)
Cara eye contact : see-lock-leave

d. Voice (Suara)
Terdapat 4 poin :
-Tone (volume harus diatur, besar/kecil)
-Intonasi (tinggi/rendah, tinggi untuk penekanan hal-hal penting)
-Pitch &Pause (atur posisi mic dari mulut)
-Speed (kecepatan berbicara dikendalikan)

2. Audience Mastery (Penguasaan Audiens)
Terdapat 2 poin penting pada penguasaan audiens :

a.handling difficult question (mengendalikan pertanyaan - pertanyaan sulit)
Pemahaman : tidak ada yang sulit, tapi pertanyaan belum tau
-Kuasai materi, agar dapat menjawab pertanyaan
-Pahami pertanyaan, konfirmasi ke penanya bila kurang paham, atau tanya lagi
-Berterimakasih kepada penanya (menghargai penanya)
-Tetap tenang dan positif thinking (jangan su'udzan terlebih dulu bahwa penanya benci atau ingin menjatuhkan kita, tetap husnudzan)
-Jangan khawatir, tarik nafas (santai, disela dengan minum dulu, tarik nafas)

b. Time management
-Rencanakanlah waktu lebih sempit dari waktu yang telah disediakan
-Harus tau pesan - pesan inti, mana yang must (penting dan harus disampaikan), should (sebaiknya ditayangkan, namun dalam darurat boleh dihilangkan), dan good (bagus diinformasikan)
-Konsep elevator test, harus siap kalau audiens hanya punya waktu sempit (seperti orang sibuk), seperti minta waktu cuma 5 menit untuk bicara HANYA konten inti yang ingin disampaikan, atau bicara sambil jalan di elevator. Karena itu penting mengetahui pesan inti yang ingin disampaikan

3. Content Mastery (Penguasaan Konten Presentasi)
Terdapat 2 konsep penting :
a. Aeroplane concept
-layaknya pesawat, presentasi kita harus mulus mulai dari take off, fly, and landing (harus ada opening, content, dan closing)
-Buka suatu presentasi dengan cerita yang menarik  berhubungan dengan konten, untuk menarik perhatian dan membangun koneksi, bisa juga dengan pengalaman/experience
-Closing diakhiri dapat berupa simpulan, menyediakan tanya jawab, atau diskusi antar audiens/sharing

b.Design presentation
4 poin penting desain presentasi yang ditampilkan :
i.basic idea, merupakan tujuan utama dibuatnya presentasi, ide dasar, latar belakang,pondasi
Terdapat 3 poin penting :
-restraint (bagaimana kita membuat atau membungkus presentasi)
-simplicity (kesederhanaan, simpel tapi elegan)
-naturalness (alami)
ii.BIG picture, merupakan gambaran besar presentasi yang ditampilkan
iii.Details, perincian dari poin - poin penting presentasi,
iv.Example, beri contoh, analogi agar lebih paham
Tips desain presentasi yaitu :
-wrap up powerful, ringkas poin penting yang telah dijelaskan, tariklah kesimpulan
-jangan terlalu banyak kata - kata, karena kita bukan mengcopy dokumen tapi presentasi. Powerpoint artinya poin-poin yang memiliki power/kekuatan tertentu, maka gunakan kata/kalimat simpel tapi penting
-gambar harus sesuai dan relevan dengan konten/kalimat
-bila menyediakan tabel, grid dibuang, fokus data (jangan semua data ditampilkan, yang penting saja)
-gunakan warna atau gambar yang memancing perasaan audiens
-1 gambar bisa menggambarkan banyak hal, tergantung bagaimana mendeskripsikan
-kontras (hurufnya dibedakan, bila butuh penekanan maka gunakan huruf yang fontsize besar)
-background gunakan warna biru, ungu, atau hijau (COOL)
-alignment & proximity (tata letak kata-kata, rata kiri/kanan, kedekatan kata-kata yang sama)
-gunakan font sans serif seperti tahoma/arial, karena hurufnya rata, tidak seperti times new roman yang ujung2nya lancip, sehingga mengesankan tidak kelihatan
-tidak harus menggunakan grafik 3D, tidak harus menggunakan pie-chart, yang penting pesan tersampaikan

Effective Communication (Komunikasi Efektif)

Tulisan ini merupakan rangkuman seminar softskill yang diadakan di ITB oleh bank BCA, yang diisi oleh Pak Subagyo. Sangat berguna untuk membangun softskill berkaitan dengan cara berkomunikasi dengan orang lain, serta dapat diterapkan dalam lingkungan da'wah dan saling menasihati dalam kebaikan
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Komunikasi efektif yaitu berbagi yang berdampak sesuai dengan yang diinginkan.
Dampakh tersebut merupakan dampak atau akibat yang diinginkan oleh kita.

Tujuan Komunikasi :
1. Membuat orang mengerti (understand)
2. Mempengaruhi orang lain agar dia setuju (influence)
3. Membuat orang bergerak (move)

Strategi besar atau tepat : merupakan tergantung tujuan kita
Jadi sebenarnya komunikasi tidak harus 2 arah, yang terpenting adalah membuat tujuan komunikasi tersebut tercapai.
2 hal yang perlu diperhatikan dalam komunikasi adalah seperti 2 sayap kiri dan kanan :
1.Steptis : mempertanyakan (ragu) --> tabayyun apakah beritanya benar atau tidak
2.Open : terbuka, ada peluang bagi kita untuk setuju
Keduanya harus seimbang, mempertanyakan dengan rasa penasaran akan tetapi harus terbuka untuk menerima jangan mempertanyakan terus.
Apabila menurut hati nurani kita sudah benar maka terima

Komunikasi efektif mencakup 3 hal penting yang harus diterapkan :
1. Konten : agar didengar, bagaimana caranya ? terdapat 2 hal penting yang harus kita kuasai dari pendengar agar pendengar mau mendengarkan
a.Pendengar butuh (jarak antara harapan dan kenyataan). Kita harus meneliti terlebih dahulu (apabila mungkin) pendengar membutuhkan apa, karena apabila
orang butuh maka dengan mudah dia akan mendengarkan. Butuh ini termasuk analisa (otak kiri)
b.Pendengar suka  : cari tau pendengar suka ngomong tentang apa, kesukaan atau favoritnya apa. karena tidak mungkin kita mengetahui semua yang pendengar butuhkan
Topik pembicaraan harus disukai. Suka termasuk rasa (otak kanan)
Contoh : anak kecil belum bisa masuk ke need (butuh) karena otak kiri atau logisnya masih belum matang. Karena itu harus masuk lewat pintu masuk suka yaitu
berkaitan otak kanan seperti mainan dll. bikin anak itu LIKE

2. Siapa pendengar.
Pendengar harus dianalisa siapa dan apa kesukaan dan cara diskusi, karena berbeda-beda kecenderungannya (ada yang suka to the point, ada yang suka basa basi,dll)
Contoh :
-ngomong beribet dulu yang halus baru kasar : otak kanan
-ngomong kasar dulu baru halus : otak kiri

Brain (otak) merupakan hardware atau alam nyata
pakaian,warna,cara ngomong,artikel yang dishare, dll menunjukkan diri sendiri

Otak terbagi menjadi 4 bagian :
-Kiri atas : ingin cepat-cepat,buru-buru,sombong,straight to the point,tidak suka basa basi,sangat jujur,tidak peka rasa (seperti Umar),RESULT
-Kiri bawah : terstruktur,terencana,pelan,detail, tapi lelet,PROSES
-Kanan atas : visual,hal besar,berpikir besar,perfeksionis,high profile (mudah jatuh kalau dipuji),TERGESA-GESA
-Kanan bawah : sopan,ramah,lembut,suka nggak enakan,takut beda pendapat,permissive,tidak berani ambil keputusan,kadang karena tdk enak jadi tidak jujur,SABAR
(merupakan tipe dosen yang disenangi mahasiswa tapi tidak keras)

Otak :
-kiri(common sense atau logis),kausalitas,empiris(faktual/nyata)
-kanan (rasa/emosi)
Contoh : waktu terasa lama (tidak nyaman) dan terasa sebentar (nyaman), bila ditanya cinta/tidak dia tidak tau jawab apabila

Untuk berani berbicara di depan :
1. Segera ngomong, jangan banyak teori dan perencanaan, paksa dirimu !!
Secara natural kalau kita dipaksa maka akan terbiasa ke keadaan tersebut (steady state)
Introvert : ketemu orang nervous,takut,dll (tes metode MTBI)
2. Jam terbang, tiap ada kesempatan langsung bicara

Pilar Sejarah Peradaban Islam

Tulisan ini merupakan rangkuman dari tabligh akbar dhuha salman "Pilar Sejarah Peradaban Islam" yang diisi oleh Ustadz Budi Ashari. Silakan menyimak.


Sejarah peradaban islam di dunia ditutup oleh yahudi, karena terlihat kita mirip orang yahudi.
Contoh :
1.kita dibatasi punya anak hanya boleh 1 atau 2 seperti program KB, mirip dengan orang yahudi yang sangat takut kalau mereka mempunyai anak
2.saat ini kita sering berbuat kerusakan di muka bumi, pelapisan kerusakan ozon, tanah-tanah tandus, pohon ditebang, bibit-bibit rusak apabila ditanam, dan lain
sebagainya (seperti yahudi : surat al-baqarah ayat 205)

Untuk itu, ada taktik yang perlu kita lakukan untuk menaklukan yahudi : seperti difirmankan Allah surat al-hasyr
di surat al-hasyr ada 3 tipe orang yang diceritakan yaitu yahudi yg terusir, muslim (muhajirin & anshar) serta orang munafik.
Pada halaman ke3 surat al-hasyr dijelaskan bahwa orang munafiq (dipelopori abdullah bin ubay) mengatakan kepada orang-orang yahudi kalau terusir mereka akan ikut,
kalau diperangi mereka akan membantu, dan lain sebagainya. Pada awalnya orang yahudi ingin pergi ke madinah karena diusir oleh kaum muslimin dalam waktu seminggu
harus keluar dari madinah. Namun karena hasutan dari orang munafik mereka tidak jadi pergi.
----
Karena itu, apabila orang-orang munafiq masih merajalela di perkampungan dan negeri, maka orang yahudi akan tetap eksis disana karena kedekatan yahudi dengan
munafiq. Maka hilangkan sifat kemunafikan dari diri kita dan orang lain mulai dari sekarang.

Perbaikan : dimulai dari gelisah pada diri kita sendiri.
Apabila diri kita masih belum gelisah maka iman kita masih belum kuat dan kita masih belum memiliki ilmu
pelajaran dari nabi kita, beliau pergi ke gua hira karena gelisah tidak tenang melihat umatnya dalam kekafiran yang sangat jauh
Maka mulai dari ilmu, maka kita akan gelisah dan harus diikuti oleh langkah-langkah selanjutnya.

Beberapa hal yang harus dilakukan untuk membangun kembali peradaban islam :
1. Siapkan orang yang ingin siap mengubah peradaban,siapkan seorang rijal dan pemimpin
Orang-orang tersebut tidak butuh banyak, yang penting sabar diatas kebenaran dan teguh menjalankan prinsip
Layaknya sahabat yang berjumlah 6 orang dikirim Rasulullah ke madinah untuk membawa islam kesana, dan segelintir orang yang membawa islam dari makkah saat awal
turun islam seperti abu bakar, namun sekaliber sahabat berhasil mengislamkan banyak orang, maka kita harus meniru beliau. Mulai dari DIRI SENDIRI !!!
2. Pegang panduan kita dengan erat yaitu Al-Qur'an dan As-Sunnah
3. Bentuk tim yang solid dan berkualitas, seperti yang dibentuk oleh Rasulullah saat mengirim delegasi atau utusan untuk mengislamkan daerah
4. Negeri/tempat/wilayah, untuk mengaplikasikan syariat. Agar negara itu sebagai role model penerapan syariat islam
Mirip dengan madinah, apabila negara-negara yang telah islam atau baru islam maka otomatis mereka akan mencontoh ke Madinah/

Monday, January 12, 2015

Tadabbur Al-Qur'an - QS An-Naba : 1-5


-Motivasi Beramal Saleh-


I. Muqaddimah

Surat An Naba terdiri dari 40 ayat dan termasuk Makkiyah. Menurut Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Al Itqan Fii ‘Ulumil Qur’an, surat An Naba turun setelah surat Al Ma’arij dan sebelum An Naazi’aat. Ia merupakan surat ke-80 dari segi urutan turunnya surat-surat Al Qur’an. Nama lainnya adalah surat ‘Amma Yatasaa aluun, At Tasaa’ul dan Al Mu’shirat.

Di dalam kitab Lubabun Nuqul Fii Asbaabin Nuzul, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menyebutkan sebab turun surat An-Naba’ adalah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al Hasan yang berkata, “Ketika Rasulullah saw. di utus, mereka (orang-orang kafir Quraisy) saling bertanya di antara mereka, lalu Alloh swt. menurunkan ayat ini.”

Surah ini menguraikan tentang hari kiamat dan bukti-bukti kekuasaan Alloh swt untuk mewujudkannya. Bukti-bukti utama yang dipaparkan di sini adalah penciptaan alam raya yang demikian hebat serta sistem yang mengaturnya yang seluruhnya menunjukkan adanya pembalasan pada hari yang telah ditetapkan Alloh swt.

Surat ini dibuka dengan ikhtilaf musyrikin Quraisy tentang An Naba (Ayat 1-5), Lalu ditunjukkan bukti-bukti kekuasaan Alloh swt. di alam semesta (Ayat 6-16). Selanjutnya Alloh swt. menyatakan tibanya hari keputusan (Ayat 17-20), yang mana pada hari tersebut setiap jiwa akan mendapatkan balasannya (Ayat 21-30). Pada hari pembalasan tersebut Alloh swt menggambarkan ganjaran terhadap orang-orang bertaqwa maupun terhadap orang-orang kafir (Ayat 31-40).


II. Mufradat

An Naba : Menurut Qatadah dan Ibnu Zaid bermakna Hari Kiamat, Hari Kebangkitan. Sedangkan menurut Mujaahid  An Naba bermakna Al Qur’an, karena terkandung berita mengenai hari berbangkit. Menurut Hamka An Naba juga bermakna tentang berita besar yang melarang menyembah berhala.
Tsumma : Menegaskan bahwa ancaman kedua lebih berat dari ancaman pertama


III. Maqra 1 (Ayat 1-5)

1. tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya?
2. tentang berita yang besar
3. yang mereka perselisihkan tentang ini.
4. sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,
5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.

Maqra ini berbicara tentang pertanyaan orang-orang kafir mengenai “An Naba” dan perselisihan tentangnya.

Di dalam Tafsir Jami’ul Bayan, Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menukil pendapat Ibnu Zaid bahwa An Naba bermakna hari kiamat.  Menurut Imam Qatadah An Naba bermakna Al ba’tsu ba’dal maut. Sedangkan menurut Imam Mujahid An Naba bermakna Al Qur’an, karena terkandung berita mengenai hari berbangkit di dalamnya.

Menurut Hamka, An Naba selain hari kebangkitan juga bermakna tentang kedatangan Al Qur’an yang disebut wahyu yang di dalamnya terdapat kabar tentang hari kiamat serta larangan menyembah berhala.

Menurut Sayyid Quthb, orang-orang kafir berselisih tentang kedatangan An Naba sebagai hari kiamat, karena secara nurani mereka menyadari jika An Naba (hari berbangkit) itu terjadi pada mereka, maka mereka akan mengalami kejadian yang fatal. Itu bias terjadi karena kekufuran mereka akan mendatangkan bencana saat “An Naba” itu tiba.

Sedangkan menurut Hamka, berita besar (An Naba) untuk orang-orang musyrik Quraisy adalah adanya ajakan dari Nabi Muhammad saw.  yang menyatakan menerima wahyu dari Alloh swt untuk mengajak mereka meninggalkan penyembahan terhadap berhala, yang menjadi sendi dasar ideologi mereka. Bahkan Nabi Muhammad saw. juga mengatakan bahwa setelah kematian, semuanya akan dihidupkan kembali oleh Alloh swt. di alam akhirat untuk mendapatkan perhitungan balasan amalnya di dunia. Hal ini benar-benar membuat orang-orang Quraisy menjadi berselisih.

Perselisihan mereka akan mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang secara terang-terangan menolak tentang An Naba, baik dalam konteks sebagai hari kiamat maupun sebagai Al Qur’an. Namun ada juga yang lisannya tidak secara terang-terangan menolak, tapi hatinya tetap menolak.

Karakter orang-orang seperti itu akan tetap ada sampai kapanpun dalam berbagai bentuknya, baik mendustakan secara tegas maupun mendustakan dengan perbuatannya meski lisannya tidak bicara. Ini bisa juga terjadi kepada seseorang yang sudah mengaku muslim sekalipun, tetapi memiliki “dha’ful iman/kelemahan iman”.

Kita tidak perlu heran dengan penolakan orang-orang kafir  tentang Al Qur’an dan kedatangan hari kiamat. Tapi yang justru harus kita waspadai adalah jangan sampai kita sebagai muslim juga “memiliki karakter layaknya orang kafir”, yang tidak meyakini kebenaran Al Qur’an dan  kedatangan hari kebangkitan tersebut.

Apa bukti kalau kita sebagai muslim, yang secara lisan mengimani Al Qur’an sebagai wahyu Alloh swt, dan secara lisan mengimani kedatangan hari kebangkitan, tetapi secara amal dan sikap justru bertentangan dengan lisannya?

  1. Mengaku muslim tetapi tidak mau hidup sesuai tuntunan Al Qur’an secara kaffah.
  2. Mengaku muslim tetapi tidak meyakini dan tidak mendukung Al Qur’an menjadi sumber hukum dalam kehidupan, sehingga orang-orang seperti ini juga memang tidak menyukai pejuang dakwah yang berkomitmen menegakkan agama Alloh di muka bumi. Dalam konteks kehidupan berpolitik, karakter orang-orang ini akan berupaya membuat fitnah dan makar terhadap gerakan dakwah serta berta'awun 'alal itsmi wal 'udwanuntuk menghalangi tegaknya Ad diin Al Islam.
  3. Mengaku muslim, tetapi tidak menyiapkan diri dengan amal shaleh untuk menghadapi hari kebangkitan yang sudah pasti datangnya, tapi malah sibuk dan terlena dengan godaan dunia, berupa popularitas, kedudukan, wanita dan panjang angan-angan.
  4. Menunda-nunda waktu untuk bertaubat dan beramal shaleh.

Sikap-sikap seperti itu sebenarnya sama dengan mendustakan atau meragukan hari kebangkitan. Imam Qatadah, menyebutkan bahwa betapa dekatnya hari kiamat, sampai-sampai Alloh swt menyebut hari kiamat dengan ungkapan besok/ghodan.

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat, dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al Hasyr : 18)

Maka seharusnya, setiap muslim menyiapkan perbekalan menyambut datangnya An Naba tersebut. Perbekalan yang terbaik tentu saja adalah bekal taqwa. Dan salah wujud taqwa menurut Ali bin Abi Thalib ra. adalah “Al Isti’dad Liyaumirrahil” atau menyiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang. Suatu perjalanan yang ujungnya berakhir antara syurga atau neraka.

Artinya, seorang muslim seharusnya memiliki bekal seperti yang dinasihatkan Ali bin Abi Thalib ra., jangan malah secara lisan menyakini kedatangan An Naba, tetapi secara fikrah, sikap dan amal bertentangan dengan lisannya.

Maka, Alloh swt. menyebutkan ancaman untuk orang-orang yang menolak Al Qur’an dan kedatangan hari kiamat dengan kalimat yang tegas dalam ayat 4-5 :

4. sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui,
5. kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka mengetahui.

Dalam QS. An Naml : 4-5, Alloh swt menjelaskan salah satu akibat kufur kepada hari akhir :

“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, Maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka Itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi”


IV. Khatimah

Surat An Naba ayat 1-5 harus makin menyadarkan kita bahwa hari kebangkitan adalah hari yang sangat besar dan juga sangat berat. Hal ini mengharuskan kita menyiapkan perbekalannya sejak saat ini juga. Membuat kita semua lebih termotivasi lagi dalam beramal shaleh, meyakini kebenaran Al Qur’an sebagai sumber hukum dan hidup berdasarkan tuntunannya, agar saat hari kebangkitan tiba, kita tidak menjadi orang-orang yang rugi dan celaka.

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al Baqarah : 197)

Jadi, saat kita dalam kondisi dha’ful iman, futur, jenuh, cape dan letih melakukan amal shaleh, termasuk dalam menjalani proses menjadi “Para Penjaga Al Qur’an” dengan tilawah, tadbbur, tahfizh, mengamalkan dan menda’wahkannya, maka bersegeralah ingat akan pertanggungjawaban pada hari  “Al ba’tsu ba’dal maut” yang sudah pasti kedatangannya, sehingga diharapkan semangat beramal shaleh akan kembali muncul, baik dalam bersegera menambah hafalan, menjaga hafalan yang sudah disetorkan dengan murojaah maupun menikmati hafalan dalam shalatnya serta menjaga hafalan dengan mengamalkannya.

Allohu Musta’an.


V. Maroji'

  1. Al Itqan Fii ‘Ulumil Qur’an, Jalaluddin As Suyuthi, Penerbit Darul Kutub Al Ilmiyyah, Cetakan Ke-1, Tahun 1425 H/2004 M
  2. Al Burhan Fii ‘Ulumil Qur’an, Badruddin Az Zarkasyi, Penerbit Darul Fikr, Cetakan ke-1, Tahun 1408 H/1988 M
  3. Ma’aalim Suwar Al Qur’an, Prof. Dr. Jum’ah Ali Abdul Qadir, Penerbit Universitas Al Azhar, Kairo, Cetakan ke-1, Tahun 1424 H/2004 M, Vol. 2
  4. Ruhul Ma'ani Fi Tafsiril Qur'an Al-Adhim Was-Sab'il Matsani, Syihabuddin Sayyid Mahmud Al-Alusi Al-Baghdadi, Penerbit Dar IhyaTurats Al Araby, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 1981 M
  5. Tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Panji Mas, Tahun 1987
  6. Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyiy Ad-Damasyqi, Penerbit Dar Ibnu Hazm, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 2000 M
  7. Tafsir Fii Zhilalil Qur’an, Edisi Bahasa Indonesia, Penerbit Robbani Press, Jakarta.
  8. Tafsir Jami'ul Bayan 'An Ta'wili Aayatil Qur'an, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thobari, Penerbit  Dar IhyaTurats Al Araby, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 1421 H/2001 M
  9. Tafsir Ma’alimut Tanzil, Muhyiddin Abu Muhammad Al-Husain bin Mas'ud Al-Baghowi, Penerbit Darul Kutub Al Ilmiyyyah, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 1425 H/2004 M

Oleh : Ust. Suherman, S.Ag, Al-Hafizh

Tadabbur Al-Qur'an - Surat Al 'Ankabut Ayat 38

-Meninggalkan Perbuatan Buruk yang Dianggap Biasa-


Allah berfirman :

“Dan (juga) kaum 'Aad dan Tsamud, dan sungguh telah nyata bagi kamu (kehancuran mereka) dari (puing-puing) tempat tinggal mereka. dan syaitan menjadikan mereka memandang baik perbuatan-perbuatan mereka, lalu ia menghalangi mereka dari jalan (Alloh), sedangkan mereka adalah orang-orang berpandangan tajam”. (QS. Al Ankabut, 29 : 38)

Dalam tafsir Fii Zhilalil Qur’an, Asy Syahid Sayyid Quthb menyebutkan bahwa kaum Aad dan Tsamud adalah kaum yang terhormat dan memiliki kedudukan yang kokoh, namun dihancurkan oleh Alloh SWT karena kesesatanya.

Alloh SWT menganugerahkan akal kepada mereka dan menurunkan wahyu melalui Nabi-Nya untuk membimbing mereka kepada jalan Alloh SWT, namun akal yang mereka miliki dan ilmu yang mereka kuasai melalaikan mereka dari tuntunan Alloh SWT. Mereka bangga dan tertipu dengan diri mereka.

Fenomena seperti ini kembali muncul saat ini. Tidak kurang orang yang memiliki ilmu malah tidak berhati-hati  dengan ilmunya, orang yang berharta bangga dengan hartanya, orang yang berpangkat takjub dengan pangkatnya, orang yang berkuasa lupa diri dengan kekuasaannya, begitu pula orang-orang yang beramal shaleh seperti berdakwah dan menghafal Al Qur’an bisa tergelincir ke dalam perbuatan yang bertentangan dengan apa yang dihafal, dipelajari dan didakwahkan. Penyebab itu semua adalah karena hilangnyaWaro’ (tidak berupaya menjaga diri) dari hal-hal  yang syubhat sehingga tergelincir ke dalam perilaku yang haram, dan hal tersebut diawali karena muncul anggapan tentang suatu perbuatan buruk yang dianggap biasa (tidak apa-apa).

Nabi SAW mengingatkan kita semua :

إنَّ الْحَلالَ بيِّن وإنَّ الْحَرَامَ بَيِّن وبينهما أمور مُشْتَبهاتٌ لا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ الناسفَمَنِ اتَقى الشبهات استبرأ لِدِينهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشبهَاتِ وَقَعَ في الْحَرامكَالرَّاعي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أنْ يَرْتَعَ فِيهِ.

"Sesungguhnya yang halal itu telah jelas dan yang haram pun telah jelas pula. Sedangkan di antara keduanya ada perkara yang syubhat (samar) yang kebanyakan manusia tidak mengetahui (hukum) nya. Siapa yang menghindari perkara syubhat (samar), maka ia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Siapa yang jatuh ke dalam perkara yang syubhat (samar) maka ia telah jatuh ke dalam perkara yang haram, bagaikan penggembala yang berada di dekat pagar larangan (milik orang lain) dan dikhawatirkan ia akan masuk ke dalamnya”. (HR. Bukhari Muslim)


Seseorang yang menggampangkan dan meremehkan perkara yang syubhat (samar), akan lebih mudah digoda syetan sehingga akhirnya terjebak melakukan perbuatan yang haram tanpa rasa bersalah dan berdosa serta tidak malu melakukannya.

Untuk seorang penghafal Al Qur’an, hal tersebut harus menjadi prinsip tersendiri, karena hakikatnya yang sedang dia hafal  adalah Kalam-NYA, maka lisan, ucapan dan perbuatan harus  mencerminkan isi Kalam Alloh SWT yang  ada dalam dadanya. Sehingga berlaku suatu kaidah sederhana “sesuatu yang menurut orang awam kebanyakan adalah perkara yang lazim maka untuk  seorang penghafal  Al Qur’an perkara tersebut bisa jadi syubhat”. Untuk seorang penghafal Al Qur’an PP BBM, photo selfie, narsis, cuitan di twitter, status FB,  WA, Chat, GEGANA (Gelisah Garau Merana) di  jejaring social, menjadi sesuatu yang “kurang atau tidak layak” dilakukan.  

KH. Arwani Amin Al Hafizh, Allohu Yarham, seorang Kyai, ‘Alim dan Hafizh yang melalui tangannya – biidznillah – ribuan penghafal Al  Qur’an lahir di nusantara, pernah memberikan nasihat yang juga dinasihatkan oleh guru saya agar ”jangan terlalu banyak bersenda gurau” karena ia bisa mengeraskan hati sehingga nanti sulit menghafal Al Qur'an. 

Seorang penghafal Al Qur’an juga harus menjauhi sumber kemaksiatan agar tidak terjatuh kedalam kemaksiatan tersebut, sehingga tidak elok rasanya dia sibuk dalam antrian untuk nonton film di  bioskop. Jika kebetulan  ingin menambah tsaqofah dengan menonton film islami maka bisa dicari pola yang lain seperti nonton bareng di rumah sambil dibahas inti dari film tersebut sesudahnya agar bisa menambah keimanan kepada Alloh SWT. Hal ini disebabkan jika seseorang bertindak berani di tempat yang meragukan, niscaya akan bertambah keberaniannya melakukan hal yang lebih berat. Hal ini sesuai sabda Nabi SAW,“Dan sesungguhnya orang yang bercampur keraguan, hampir-hampir ia berani (melakukan hal yang diharamkan)” (HR. Abu Dawud).

Juga jauh dari  kata layak jika seorang penghafal Al  Qur’an sibuk memikirkan mode baju, jilbab, gadget baru dan sibuk membicarakan atau terpikat dengan kendaraan terbaru, atau sibuk memikirkan istri baru. Ini lebih kepada kehati-hatian agar tidak muncul idhtiroobun nafs (kegelisahan jiwa) dan idh’aaful iman (melemahkan iman) sehingga Al Qur’an enggan melekat dalam hati kita.

Sebagai penutup,  mari kita ingat nasihat penghulu Murobbi kita, Baginda Rasulullah SAW :

البِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاْلإِثْمُ مَالَمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلَمْ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَإِنْ أَفْتَاكَ الْمُفْتُوْنَ

"Kebaikan adalah sesuatu yang jiwa merasa tenang dan hati merasa tenteram kepadanya, sedangkan dosa adalah sesuatu yang jiwa tidak merasa tenang dan hati tidak merasa tenteram kepadanya, sekalipun orang-orang memberikan berbagai pendapat kepadamu." (Shahihul Jami’ : 2881)


لاَيَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُوْنَ مِنَ الْمُتَّقِيْنَ حَتَّى يَدَعَ مَالاَبَأْسَ بِهِ حَذَرًا مِمَّا بِهِ بَأْسٌ

 “Seorang hamba belum mencapai kedudukan orang-orang yang bertaqwa hingga ia meninggalkan hal yang sebenarnya tidak apa-apa hanya untuk menghindari hal yang ada apa-apanya” (HR. At Tirmidzi dan Ibnu Majah, derajatnya Hasan).

“Allohummaqsim lanaa min khosyatika maa tahuulu bihii bainanaa wa baina ma’shiyatika”


oleh : Ust. Suherman, S.Ag, Al-Hafizh