Yuk Cinta Al-Qur'an
Membangun Peradaban Islam Berbasis Al-Qur'an
Monday, February 15, 2016
MAHABBATULLAH (Cinta kepada Allah)
Mendapatkan cinta Allah merupakan salah satu keinginan utama dari kaum mukminin, apabila seseorang telah mendapatkan cinta Allah maka seolah2 tidak dibutuhkan yang lainnya.
Untuk mendapatkan cinta Allah, diperlukan suatu sifat yang harus kita tanamkan kepada diri kita, yaitu muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah. Hal ini dikarenakan apabila kita merasa diawasi oleh Allah, maka diri kita tidak akan berani untuk berbuat maksiat, dan selalu berusaha untuk melakukan amal shaleh. Apabila kita telah melakukan amalan wajib kemudian diikuti dengan amalan sunnah, maka insyaa Allah kita akan mendapatkan cinta Allah. Apabila Allah sudah cinta kepada kita, maka Allah akan menjaga diri kita, anggota badan kita dari melakukan suatu kemaksiatan, dan itu merupakan tanda cinta Allah terbesar. Dan Allah akan memberi tahu kepada malaikat jibril untuk mencintai hamba-Nya, dan jibril akan memberitahu penduduk langit bahwa Allah telah mencintai orang tersebut, maka cintailah hamba tersebut, Masyaa Allah. Allahummaj'alnaa minhum. Aamiin.
Ada beberapa hal yang akan mendatangkan kecintaan kepada Allah, yaitu:
1. Saling mencintai karena Allah
Mukmin dengan mukmin lainnya merupakan saudara, sebagaimana Allah firmankan dalam surat al-hujurat ayat 10. Karena itu, saling mencintai karena Allah karena orang tersebut seorang mukmin merupakan suatu hal yang dapat mendatangkan cinta-Nya. Apabila kita saling mendoakan, menasehati, membantu saudara seiman kita karena Allah, maka Allah pun akan menjadi cinta kepada kita.
2. Saling menyambung tali silaturahim
Allah memiliki sifat Ar-rahim, Yang Maha Penyayang. Karena Allah memiliki sifat tersebut, maka Allah menyuruh kita untuk menyambung tali silaturahim, yaitu bentuk kasih sayang kita terhadap sesama manusia. Orang mukmin adalah orang yang menyambung tali silaturahim saat orang lain berusaha memutusnya. Maka mari kita sambungkan tali silaturahim terutama kepada kerabat kita, kemudian tetangga kita, lalu teman-teman sekolah atau kuliah, atau komunitas-komunitas yang kita pernah masuk ke dalamnya. Saat ini telah banyak media-media yang dapat membantu kita untuk menyambung tali silaturahim, seperti WA, Line, FB, dan lain sebagainya. Apabila kita saling berkasih sayang dan menyambung tali silaturahim karena Allah, maka Allah akan sayang juga kepada kita.
3. Bersyukur atas nikmat Allah
Apabila kita bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambahkan kecintaan-Nya kepada kita, baik itu berupa rezeki di dunia maupun di akhirat, sesuai dengan surat Ibrahim (14) ayat 7. Apabila kita ingat-ingat dan hitung nikmat Allah, pasti kita tidak dapat menghitungnya karena nikmat Allah begitu besar. Oksigen Allah berikan secara cuma-cuma, jantung masih Allah biarkan berdetak. Nikmat terutama yang terbesar adalah keimanan, hidayah, dimana tidak semua orang mendapatkannya. Namun Allah Ar-Rahman memberikan rahmat-Nya kepada kita, sehingga kita dimudahkan untuk shalat di masjid, membaca Al-Qur'an dan lain sebagainya. Apakah apabila kita bermaksiat, Allah mencabut nyawa kita? menghilangkan oksigen? Kita masih diberikan oleh Allah hidup, untuk bertobat, maka mari kita manfaatkan sebaik-baiknya.
4. Saling membantu karena Allah
Begitu banyak orang mukmin yang membutuhkan bantuan saat ini, baik di sekitar kita berupa orang-orang miskin, maupun saudara-saudara kita tertindas di Suriah, Palestina, dan lain sebagainya. Maka sifat orang mukmin adalah saling membantu karena Allah, karena pengorbanan yang kita lakukan kepada saudara kita untuk membantunya merupakan suatu bentuk cinta kepada saudara kita, dan akan mendatangkan cinta kepada Allah.
Wallahu a'lam
#Faidah Kajian Ba'da Maghrib Ustadz Deden Suhendar, Masjid At-Taqwa 14-02-2016
Saturday, May 16, 2015
Bersikap Tawadhu'
"Makin Berisi, Makin Merunduk"
Itulah ungkapan yang biasanya ditujukan kepada seseorang yang mulia. Ya, seseorang yang sebenarnya memiliki harga diri yang tinggi, memiliki kualitas yang mumpuni, memiliki kemampuan dan skill yang luar biasa, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain, namun di hadapan manusia merendahkan dirinya, tidak merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Itulah orang tawadhu'.
Rasulullah bersabda "Tiada seorang pun yang berlaku tawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan kedudukannya. Dan tiada seorang pun yang ambisi terhadap ketinggian di dunia, melainkan Allah apsti akan menghinakan dan merendahkannya." (Al Hadits)
Hadits diatas dilatarbelakangi oleh kejadian dimana unta Rasulullah yang bernama Al-'Adhaba kalah balapan dengan unta milik Badui, lalu sahabat menjadi jengkel karena unta tersebut sebelumnya tidak pernah kalah.
Wahai saudaraku, tawadhu'lah, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu. Apabila engkau menghendaki ketinggian, maka Allah akan merendahkamu. Hiduplah di tengah manusia dengan rendah hati dan tidak merasa tinggi. Ingatlah bahwa semua ini adalah milik Allah, semua yang kita miliki berhak Allah cabut kembali bahkan apabila Allah berkehendak kita tidak memiliki apa-apa lagi, maka Allah dapat melakukannya. Jangan merasa hebat, jangan merasa menonjolkan diri, apalagi meremehkan saudaranya sesama muslim. Karena Rasulullah bersabda :
"Cukuplah seseorang itu disebut berbuat jahat apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim" (HR Muslim)
Subhanallah, kita telah berbuat jahat, telah menjadi penjahat apabila kita meremehkan saudara sesama muslim. Karena itu jadilah orang bijak. Dimana apabila dia bertemu siapapun, dia merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Seperti perkataan seseorang "Apabila kamu bertemu orang yang lebih muda dari dirimu, katakanlah 'sungguh orang ini lebih sedikit berbuat dosa dibandingkan aku'. Namun apabila kamu bertemu orang yang lebih tua darimu, katakanlah 'sungguh orang ini telah mendahuluiku dalam beramal dan berbuat kebaikan'"
Lihatlah bahwa Allah juga berfirman dalam banyak ayat dengan makna yang sama, pada salah satu ayat yang artinya adalah sebagai berikut :
".....Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid : 23)
Saudaraku, bisa jadi orang yang engkau remehkan adalah singa perkasa, yang nilainya di mata Allah sebanding dengan seluruh manusia di bumi yang seperti dirimu !
Sebagaimana sabda Rasulullah :
Ketika itu beliau bertanya kepada para sahabat di sampingnya tentang seorang lelaki yang lewat dihadapannya, "Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?" Maka mereka menjawab "Orang itu layak, apabila meminang diterima pinangannya, apabila berkata didengar perkataannya, apaila memerintah ditaati perintahnya". Kemudian ada seseorang lain yang lewat bajunya lusuh, penampilan tidak menarik perhatian, lalu beliau bertanya kembali "Apa pendapat kalian tentang orang ini ?" Lalu mereka menjawab "Orang itu pantas, jika berbicara tidak didengar perkataannya." Lalu Rasulullah bersabda "Orang itu lebih baik dari sepenuh bumi semisal orang tadi" (HR Bukhari)
Masya Allah ! Berkata para ulama dan fuqaha "Tidak ada dua jenis sesuatu yang sebanding dengan seribu atau beribu-ribu dengan yang lain kecuali pada manusia. Terkadang seorang manusia bisa sebanding dengan sepenuh bumi orang yang sejenisnya.
-------------------------------------------
Saudaraku, karena itulah betapa pentingnya bersikap tawadhu di hadapan manusia. Ingatlah Allah menciptakan manusia berbeda-beda, terdapat kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Maka janganlah melihat kekurangan orang dan melihat kelebihan diri sendiri, tetapi lihatlah kekurangan diri kita dan lihat kelebihan orang lain, sehingga kita menjadi tawadhu', dan Allah pun akan mencintai kita dan meninggikan derajat kita dihadapan para makhluknya, in syaa Allah.
Wallahu a'lam
Dikutip dari buku Tarbiyah Jihadiyah jilid 1, karya DR. Abdullah Azzam dengan tambahan
Itulah ungkapan yang biasanya ditujukan kepada seseorang yang mulia. Ya, seseorang yang sebenarnya memiliki harga diri yang tinggi, memiliki kualitas yang mumpuni, memiliki kemampuan dan skill yang luar biasa, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain, namun di hadapan manusia merendahkan dirinya, tidak merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Itulah orang tawadhu'.
Rasulullah bersabda "Tiada seorang pun yang berlaku tawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan kedudukannya. Dan tiada seorang pun yang ambisi terhadap ketinggian di dunia, melainkan Allah apsti akan menghinakan dan merendahkannya." (Al Hadits)
Hadits diatas dilatarbelakangi oleh kejadian dimana unta Rasulullah yang bernama Al-'Adhaba kalah balapan dengan unta milik Badui, lalu sahabat menjadi jengkel karena unta tersebut sebelumnya tidak pernah kalah.
Wahai saudaraku, tawadhu'lah, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu. Apabila engkau menghendaki ketinggian, maka Allah akan merendahkamu. Hiduplah di tengah manusia dengan rendah hati dan tidak merasa tinggi. Ingatlah bahwa semua ini adalah milik Allah, semua yang kita miliki berhak Allah cabut kembali bahkan apabila Allah berkehendak kita tidak memiliki apa-apa lagi, maka Allah dapat melakukannya. Jangan merasa hebat, jangan merasa menonjolkan diri, apalagi meremehkan saudaranya sesama muslim. Karena Rasulullah bersabda :
"Cukuplah seseorang itu disebut berbuat jahat apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim" (HR Muslim)
Subhanallah, kita telah berbuat jahat, telah menjadi penjahat apabila kita meremehkan saudara sesama muslim. Karena itu jadilah orang bijak. Dimana apabila dia bertemu siapapun, dia merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Seperti perkataan seseorang "Apabila kamu bertemu orang yang lebih muda dari dirimu, katakanlah 'sungguh orang ini lebih sedikit berbuat dosa dibandingkan aku'. Namun apabila kamu bertemu orang yang lebih tua darimu, katakanlah 'sungguh orang ini telah mendahuluiku dalam beramal dan berbuat kebaikan'"
Lihatlah bahwa Allah juga berfirman dalam banyak ayat dengan makna yang sama, pada salah satu ayat yang artinya adalah sebagai berikut :
".....Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid : 23)
Saudaraku, bisa jadi orang yang engkau remehkan adalah singa perkasa, yang nilainya di mata Allah sebanding dengan seluruh manusia di bumi yang seperti dirimu !
Sebagaimana sabda Rasulullah :
Ketika itu beliau bertanya kepada para sahabat di sampingnya tentang seorang lelaki yang lewat dihadapannya, "Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?" Maka mereka menjawab "Orang itu layak, apabila meminang diterima pinangannya, apabila berkata didengar perkataannya, apaila memerintah ditaati perintahnya". Kemudian ada seseorang lain yang lewat bajunya lusuh, penampilan tidak menarik perhatian, lalu beliau bertanya kembali "Apa pendapat kalian tentang orang ini ?" Lalu mereka menjawab "Orang itu pantas, jika berbicara tidak didengar perkataannya." Lalu Rasulullah bersabda "Orang itu lebih baik dari sepenuh bumi semisal orang tadi" (HR Bukhari)
Masya Allah ! Berkata para ulama dan fuqaha "Tidak ada dua jenis sesuatu yang sebanding dengan seribu atau beribu-ribu dengan yang lain kecuali pada manusia. Terkadang seorang manusia bisa sebanding dengan sepenuh bumi orang yang sejenisnya.
-------------------------------------------
Saudaraku, karena itulah betapa pentingnya bersikap tawadhu di hadapan manusia. Ingatlah Allah menciptakan manusia berbeda-beda, terdapat kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Maka janganlah melihat kekurangan orang dan melihat kelebihan diri sendiri, tetapi lihatlah kekurangan diri kita dan lihat kelebihan orang lain, sehingga kita menjadi tawadhu', dan Allah pun akan mencintai kita dan meninggikan derajat kita dihadapan para makhluknya, in syaa Allah.
Wallahu a'lam
Dikutip dari buku Tarbiyah Jihadiyah jilid 1, karya DR. Abdullah Azzam dengan tambahan
Thursday, May 7, 2015
Tadabbur Surat Al-Furqan ayat 15
Pada surat Al-Furqan Allah berfirman,
قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚكَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا
Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?"
(QS Al-Furqan : 15)
Pada ayat ini, Allah mengatakan surga menjadi tempat kembali untuk kita. Tempat kembali maksudnya adalah sebelumnya kita pernah berada di tempat tersebut, kemudian pergi dari tempat tersebut dan akhirnya kembali lagi ke tempat tersebut.
Lalu mengapa tempat kembali ? Apakah kita pernah ke surga lalu melakukan perjalanan ke bumi ?
Ingatlah saudaraku bahwa asal mula manusia adalah dari surga, yaitu nabi Adam 'alaihissalam yang bersama Hawa berada di surga, sebelum kemudian digelincirkan oleh setan
untuk memakan pohon terlarang.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Al-Baqarah : 38)
Lalu mengapa kita akan kembali ke surga, sedangkan kita hanya keturunan beliau ?
Pada surat Al-A'raf Allah berfirman.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS Al-A'raf : 172)
Sehingga dari ayat ini, Allah menyatakan bahwa kita berasal dari tulang sulbi nabi Adam dengan fitrah bahwa sebenarnya kita islam dan kita sudah bersaksi kepada Allah
di alam ruh bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kita tidak akan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sehingga memang semua manusia asal mula adalah dari tulang sulbi Adam, sehingga sebelumnya kita berada di surga.
Maka kesimpulannya adalah fitrah manusia adalah berada di surga. Itu tempat asal dan tempat kembali kita. Kita harus berusaha untuk kembali ke surga sebagai tempat persinggahan terakhir. Sehingga dunia sebenarnya bukan tempat yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Persis seperti apa yang Rasulullah katakan,
Dari Abdullah bin Mas’ud , beliau menceritakan bahwa Rasulullah tidur di atas tikarnya. Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia. Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].
Hadits diatas mirip sekali seperti kasus dimana orang yang sedang dalam perjalanan lalu akan kembali lagi ke tempat asalnya. Maka berbekallah saudaraku dengan bekal taqwa. Karena perjalanan untuk kembali ke surga sangat berat. Terlalu banyak rintangan yang akan menghadang. Hanya orang tertentu yang dapat melewatinya.
Rasulullah juga bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini layaknya seorang asing atau penyeberang jalan.” [H.R. Al-Bukhari dari Ibnu Umar].
Sehingga saudaraku, marilah kita mengubah mindset kita bahwa dunia bukanlah tempat abadi. Ini hanya persinggahan sebentar, sangat sebentar menuju akhirat.
Dunia adalah tempat beramal, dan di akhirat tempat menuai hasil usaha kita di dunia. Maka mari bersama-sama menuju ke tempat kembali kita yang abadi di akhirat, surga.
Wallahu a'lam
قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚكَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا
Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?"
(QS Al-Furqan : 15)
Pada ayat ini, Allah mengatakan surga menjadi tempat kembali untuk kita. Tempat kembali maksudnya adalah sebelumnya kita pernah berada di tempat tersebut, kemudian pergi dari tempat tersebut dan akhirnya kembali lagi ke tempat tersebut.
Lalu mengapa tempat kembali ? Apakah kita pernah ke surga lalu melakukan perjalanan ke bumi ?
Ingatlah saudaraku bahwa asal mula manusia adalah dari surga, yaitu nabi Adam 'alaihissalam yang bersama Hawa berada di surga, sebelum kemudian digelincirkan oleh setan
untuk memakan pohon terlarang.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Al-Baqarah : 38)
Lalu mengapa kita akan kembali ke surga, sedangkan kita hanya keturunan beliau ?
Pada surat Al-A'raf Allah berfirman.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS Al-A'raf : 172)
Sehingga dari ayat ini, Allah menyatakan bahwa kita berasal dari tulang sulbi nabi Adam dengan fitrah bahwa sebenarnya kita islam dan kita sudah bersaksi kepada Allah
di alam ruh bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kita tidak akan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sehingga memang semua manusia asal mula adalah dari tulang sulbi Adam, sehingga sebelumnya kita berada di surga.
Maka kesimpulannya adalah fitrah manusia adalah berada di surga. Itu tempat asal dan tempat kembali kita. Kita harus berusaha untuk kembali ke surga sebagai tempat persinggahan terakhir. Sehingga dunia sebenarnya bukan tempat yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Persis seperti apa yang Rasulullah katakan,
Dari Abdullah bin Mas’ud , beliau menceritakan bahwa Rasulullah tidur di atas tikarnya. Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia. Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].
Hadits diatas mirip sekali seperti kasus dimana orang yang sedang dalam perjalanan lalu akan kembali lagi ke tempat asalnya. Maka berbekallah saudaraku dengan bekal taqwa. Karena perjalanan untuk kembali ke surga sangat berat. Terlalu banyak rintangan yang akan menghadang. Hanya orang tertentu yang dapat melewatinya.
Rasulullah juga bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini layaknya seorang asing atau penyeberang jalan.” [H.R. Al-Bukhari dari Ibnu Umar].
Sehingga saudaraku, marilah kita mengubah mindset kita bahwa dunia bukanlah tempat abadi. Ini hanya persinggahan sebentar, sangat sebentar menuju akhirat.
Dunia adalah tempat beramal, dan di akhirat tempat menuai hasil usaha kita di dunia. Maka mari bersama-sama menuju ke tempat kembali kita yang abadi di akhirat, surga.
Wallahu a'lam
Subscribe to:
Posts (Atom)