-Motivasi Beramal Saleh-
I. Muqaddimah
Surat An Naba terdiri dari 40 ayat dan termasuk Makkiyah. Menurut Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam kitab Al Itqan Fii ‘Ulumil Qur’an, surat An Naba turun setelah surat Al Ma’arij dan sebelum An Naazi’aat. Ia merupakan surat ke-80 dari segi urutan turunnya surat-surat Al Qur’an. Nama lainnya adalah surat ‘Amma Yatasaa aluun, At Tasaa’ul dan Al Mu’shirat.
Di dalam kitab Lubabun Nuqul Fii Asbaabin Nuzul, Imam Jalaluddin As-Suyuthi menyebutkan sebab turun surat An-Naba’ adalah, Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Al Hasan yang berkata, “Ketika Rasulullah saw. di utus, mereka (orang-orang kafir Quraisy) saling bertanya di antara mereka, lalu Alloh swt. menurunkan ayat ini.”
Surah ini menguraikan tentang hari kiamat dan bukti-bukti kekuasaan Alloh swt untuk mewujudkannya. Bukti-bukti utama yang dipaparkan di sini adalah penciptaan alam raya yang demikian hebat serta sistem yang mengaturnya yang seluruhnya menunjukkan adanya pembalasan pada hari yang telah ditetapkan Alloh swt.
Surat ini dibuka dengan ikhtilaf musyrikin Quraisy tentang An Naba (Ayat 1-5), Lalu ditunjukkan bukti-bukti kekuasaan Alloh swt. di alam semesta (Ayat 6-16). Selanjutnya Alloh swt. menyatakan tibanya hari keputusan (Ayat 17-20), yang mana pada hari tersebut setiap jiwa akan mendapatkan balasannya (Ayat 21-30). Pada hari pembalasan tersebut Alloh swt menggambarkan ganjaran terhadap orang-orang bertaqwa maupun terhadap orang-orang kafir (Ayat 31-40).
II. Mufradat
An Naba : Menurut Qatadah dan Ibnu Zaid bermakna Hari Kiamat, Hari Kebangkitan. Sedangkan menurut Mujaahid An Naba bermakna Al Qur’an, karena terkandung berita mengenai hari berbangkit. Menurut Hamka An Naba juga bermakna tentang berita besar yang melarang menyembah berhala.
Tsumma : Menegaskan bahwa ancaman kedua lebih berat dari ancaman pertama
III. Maqra 1 (Ayat 1-5)
1. tentang Apakah mereka saling bertanya-tanya?
2. tentang berita yang besar
3. yang mereka perselisihkan tentang ini.
4. sekali-kali tidak; kelak mereka akan mengetahui,
5. kemudian sekali-kali tidak; kelak mereka mengetahui.
Maqra ini berbicara tentang pertanyaan orang-orang kafir mengenai “An Naba” dan perselisihan tentangnya.
Di dalam Tafsir Jami’ul Bayan, Imam Ibnu Jarir Ath Thabari menukil pendapat Ibnu Zaid bahwa An Naba bermakna hari kiamat. Menurut Imam Qatadah An Naba bermakna Al ba’tsu ba’dal maut. Sedangkan menurut Imam Mujahid An Naba bermakna Al Qur’an, karena terkandung berita mengenai hari berbangkit di dalamnya.
Menurut Hamka, An Naba selain hari kebangkitan juga bermakna tentang kedatangan Al Qur’an yang disebut wahyu yang di dalamnya terdapat kabar tentang hari kiamat serta larangan menyembah berhala.
Menurut Sayyid Quthb, orang-orang kafir berselisih tentang kedatangan An Naba sebagai hari kiamat, karena secara nurani mereka menyadari jika An Naba (hari berbangkit) itu terjadi pada mereka, maka mereka akan mengalami kejadian yang fatal. Itu bias terjadi karena kekufuran mereka akan mendatangkan bencana saat “An Naba” itu tiba.
Sedangkan menurut Hamka, berita besar (An Naba) untuk orang-orang musyrik Quraisy adalah adanya ajakan dari Nabi Muhammad saw. yang menyatakan menerima wahyu dari Alloh swt untuk mengajak mereka meninggalkan penyembahan terhadap berhala, yang menjadi sendi dasar ideologi mereka. Bahkan Nabi Muhammad saw. juga mengatakan bahwa setelah kematian, semuanya akan dihidupkan kembali oleh Alloh swt. di alam akhirat untuk mendapatkan perhitungan balasan amalnya di dunia. Hal ini benar-benar membuat orang-orang Quraisy menjadi berselisih.
Perselisihan mereka akan mengantarkan mereka menjadi orang-orang yang secara terang-terangan menolak tentang An Naba, baik dalam konteks sebagai hari kiamat maupun sebagai Al Qur’an. Namun ada juga yang lisannya tidak secara terang-terangan menolak, tapi hatinya tetap menolak.
Karakter orang-orang seperti itu akan tetap ada sampai kapanpun dalam berbagai bentuknya, baik mendustakan secara tegas maupun mendustakan dengan perbuatannya meski lisannya tidak bicara. Ini bisa juga terjadi kepada seseorang yang sudah mengaku muslim sekalipun, tetapi memiliki “dha’ful iman/kelemahan iman”.
Kita tidak perlu heran dengan penolakan orang-orang kafir tentang Al Qur’an dan kedatangan hari kiamat. Tapi yang justru harus kita waspadai adalah jangan sampai kita sebagai muslim juga “memiliki karakter layaknya orang kafir”, yang tidak meyakini kebenaran Al Qur’an dan kedatangan hari kebangkitan tersebut.
Apa bukti kalau kita sebagai muslim, yang secara lisan mengimani Al Qur’an sebagai wahyu Alloh swt, dan secara lisan mengimani kedatangan hari kebangkitan, tetapi secara amal dan sikap justru bertentangan dengan lisannya?
- Mengaku muslim tetapi tidak mau hidup sesuai tuntunan Al Qur’an secara kaffah.
- Mengaku muslim tetapi tidak meyakini dan tidak mendukung Al Qur’an menjadi sumber hukum dalam kehidupan, sehingga orang-orang seperti ini juga memang tidak menyukai pejuang dakwah yang berkomitmen menegakkan agama Alloh di muka bumi. Dalam konteks kehidupan berpolitik, karakter orang-orang ini akan berupaya membuat fitnah dan makar terhadap gerakan dakwah serta berta'awun 'alal itsmi wal 'udwanuntuk menghalangi tegaknya Ad diin Al Islam.
- Mengaku muslim, tetapi tidak menyiapkan diri dengan amal shaleh untuk menghadapi hari kebangkitan yang sudah pasti datangnya, tapi malah sibuk dan terlena dengan godaan dunia, berupa popularitas, kedudukan, wanita dan panjang angan-angan.
- Menunda-nunda waktu untuk bertaubat dan beramal shaleh.
Sikap-sikap seperti itu sebenarnya sama dengan mendustakan atau meragukan hari kebangkitan. Imam Qatadah, menyebutkan bahwa betapa dekatnya hari kiamat, sampai-sampai Alloh swt menyebut hari kiamat dengan ungkapan besok/ghodan.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat, dan bertakwalah kepada Alloh, Sesungguhnya Alloh Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”.(QS. Al Hasyr : 18)
Maka seharusnya, setiap muslim menyiapkan perbekalan menyambut datangnya An Naba tersebut. Perbekalan yang terbaik tentu saja adalah bekal taqwa. Dan salah wujud taqwa menurut Ali bin Abi Thalib ra. adalah “Al Isti’dad Liyaumirrahil” atau menyiapkan bekal untuk perjalanan yang sangat panjang. Suatu perjalanan yang ujungnya berakhir antara syurga atau neraka.
Artinya, seorang muslim seharusnya memiliki bekal seperti yang dinasihatkan Ali bin Abi Thalib ra., jangan malah secara lisan menyakini kedatangan An Naba, tetapi secara fikrah, sikap dan amal bertentangan dengan lisannya.
Maka, Alloh swt. menyebutkan ancaman untuk orang-orang yang menolak Al Qur’an dan kedatangan hari kiamat dengan kalimat yang tegas dalam ayat 4-5 :
4. sekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui,
5. kemudian sekali-kali tidak, kelak mereka mengetahui.
Dalam QS. An Naml : 4-5, Alloh swt menjelaskan salah satu akibat kufur kepada hari akhir :
“Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada negeri akhirat, Kami jadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka, Maka mereka bergelimang (dalam kesesatan). Mereka Itulah orang-orang yang mendapat (di dunia) azab yang buruk dan mereka di akhirat adalah orang-orang yang paling merugi”
IV. Khatimah
Surat An Naba ayat 1-5 harus makin menyadarkan kita bahwa hari kebangkitan adalah hari yang sangat besar dan juga sangat berat. Hal ini mengharuskan kita menyiapkan perbekalannya sejak saat ini juga. Membuat kita semua lebih termotivasi lagi dalam beramal shaleh, meyakini kebenaran Al Qur’an sebagai sumber hukum dan hidup berdasarkan tuntunannya, agar saat hari kebangkitan tiba, kita tidak menjadi orang-orang yang rugi dan celaka.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal” (QS. Al Baqarah : 197)
Jadi, saat kita dalam kondisi dha’ful iman, futur, jenuh, cape dan letih melakukan amal shaleh, termasuk dalam menjalani proses menjadi “Para Penjaga Al Qur’an” dengan tilawah, tadbbur, tahfizh, mengamalkan dan menda’wahkannya, maka bersegeralah ingat akan pertanggungjawaban pada hari “Al ba’tsu ba’dal maut” yang sudah pasti kedatangannya, sehingga diharapkan semangat beramal shaleh akan kembali muncul, baik dalam bersegera menambah hafalan, menjaga hafalan yang sudah disetorkan dengan murojaah maupun menikmati hafalan dalam shalatnya serta menjaga hafalan dengan mengamalkannya.
Allohu Musta’an.
V. Maroji'
- Al Itqan Fii ‘Ulumil Qur’an, Jalaluddin As Suyuthi, Penerbit Darul Kutub Al Ilmiyyah, Cetakan Ke-1, Tahun 1425 H/2004 M
- Al Burhan Fii ‘Ulumil Qur’an, Badruddin Az Zarkasyi, Penerbit Darul Fikr, Cetakan ke-1, Tahun 1408 H/1988 M
- Ma’aalim Suwar Al Qur’an, Prof. Dr. Jum’ah Ali Abdul Qadir, Penerbit Universitas Al Azhar, Kairo, Cetakan ke-1, Tahun 1424 H/2004 M, Vol. 2
- Ruhul Ma'ani Fi Tafsiril Qur'an Al-Adhim Was-Sab'il Matsani, Syihabuddin Sayyid Mahmud Al-Alusi Al-Baghdadi, Penerbit Dar IhyaTurats Al Araby, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 1981 M
- Tafsir Al Azhar, Prof. Dr. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka), Penerbit Pustaka Panji Mas, Tahun 1987
- Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Isma'il bin Umar bin Katsir Al-Quraisyiy Ad-Damasyqi, Penerbit Dar Ibnu Hazm, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 2000 M
- Tafsir Fii Zhilalil Qur’an, Edisi Bahasa Indonesia, Penerbit Robbani Press, Jakarta.
- Tafsir Jami'ul Bayan 'An Ta'wili Aayatil Qur'an, Abu Ja'far Muhammad bin Jarir at-Thobari, Penerbit Dar IhyaTurats Al Araby, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 1421 H/2001 M
- Tafsir Ma’alimut Tanzil, Muhyiddin Abu Muhammad Al-Husain bin Mas'ud Al-Baghowi, Penerbit Darul Kutub Al Ilmiyyyah, Beirut, Cetakan ke-1, Tahun 1425 H/2004 M
Oleh : Ust. Suherman, S.Ag, Al-Hafizh