"Makin Berisi, Makin Merunduk"
Itulah ungkapan yang biasanya ditujukan kepada seseorang yang mulia. Ya, seseorang yang sebenarnya memiliki harga diri yang tinggi, memiliki kualitas yang mumpuni, memiliki kemampuan dan skill yang luar biasa, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain, namun di hadapan manusia merendahkan dirinya, tidak merasa lebih hebat atau lebih tinggi dari manusia lainnya. Itulah orang tawadhu'.
Rasulullah bersabda "Tiada seorang pun yang berlaku tawadhu' karena Allah, melainkan Allah akan meninggikan kedudukannya. Dan tiada seorang pun yang ambisi terhadap ketinggian di dunia, melainkan Allah apsti akan menghinakan dan merendahkannya." (Al Hadits)
Hadits diatas dilatarbelakangi oleh kejadian dimana unta Rasulullah yang bernama Al-'Adhaba kalah balapan dengan unta milik Badui, lalu sahabat menjadi jengkel karena unta tersebut sebelumnya tidak pernah kalah.
Wahai saudaraku, tawadhu'lah, niscaya Allah akan mengangkat derajatmu. Apabila engkau menghendaki ketinggian, maka Allah akan merendahkamu. Hiduplah di tengah manusia dengan rendah hati dan tidak merasa tinggi. Ingatlah bahwa semua ini adalah milik Allah, semua yang kita miliki berhak Allah cabut kembali bahkan apabila Allah berkehendak kita tidak memiliki apa-apa lagi, maka Allah dapat melakukannya. Jangan merasa hebat, jangan merasa menonjolkan diri, apalagi meremehkan saudaranya sesama muslim. Karena Rasulullah bersabda :
"Cukuplah seseorang itu disebut berbuat jahat apabila ia meremehkan saudaranya sesama muslim" (HR Muslim)
Subhanallah, kita telah berbuat jahat, telah menjadi penjahat apabila kita meremehkan saudara sesama muslim. Karena itu jadilah orang bijak. Dimana apabila dia bertemu siapapun, dia merasa dirinya tidak ada apa-apanya dibandingkan orang tersebut. Seperti perkataan seseorang "Apabila kamu bertemu orang yang lebih muda dari dirimu, katakanlah 'sungguh orang ini lebih sedikit berbuat dosa dibandingkan aku'. Namun apabila kamu bertemu orang yang lebih tua darimu, katakanlah 'sungguh orang ini telah mendahuluiku dalam beramal dan berbuat kebaikan'"
Lihatlah bahwa Allah juga berfirman dalam banyak ayat dengan makna yang sama, pada salah satu ayat yang artinya adalah sebagai berikut :
".....Allah tidak mencintai orang yang sombong lagi membanggakan diri" (QS Al-Hadid : 23)
Saudaraku, bisa jadi orang yang engkau remehkan adalah singa perkasa, yang nilainya di mata Allah sebanding dengan seluruh manusia di bumi yang seperti dirimu !
Sebagaimana sabda Rasulullah :
Ketika itu beliau bertanya kepada para sahabat di sampingnya tentang seorang lelaki yang lewat dihadapannya, "Bagaimana pendapatmu tentang orang itu?" Maka mereka menjawab "Orang itu layak, apabila meminang diterima pinangannya, apabila berkata didengar perkataannya, apaila memerintah ditaati perintahnya". Kemudian ada seseorang lain yang lewat bajunya lusuh, penampilan tidak menarik perhatian, lalu beliau bertanya kembali "Apa pendapat kalian tentang orang ini ?" Lalu mereka menjawab "Orang itu pantas, jika berbicara tidak didengar perkataannya." Lalu Rasulullah bersabda "Orang itu lebih baik dari sepenuh bumi semisal orang tadi" (HR Bukhari)
Masya Allah ! Berkata para ulama dan fuqaha "Tidak ada dua jenis sesuatu yang sebanding dengan seribu atau beribu-ribu dengan yang lain kecuali pada manusia. Terkadang seorang manusia bisa sebanding dengan sepenuh bumi orang yang sejenisnya.
-------------------------------------------
Saudaraku, karena itulah betapa pentingnya bersikap tawadhu di hadapan manusia. Ingatlah Allah menciptakan manusia berbeda-beda, terdapat kelebihan dan kekurangan satu sama lain. Maka janganlah melihat kekurangan orang dan melihat kelebihan diri sendiri, tetapi lihatlah kekurangan diri kita dan lihat kelebihan orang lain, sehingga kita menjadi tawadhu', dan Allah pun akan mencintai kita dan meninggikan derajat kita dihadapan para makhluknya, in syaa Allah.
Wallahu a'lam
Dikutip dari buku Tarbiyah Jihadiyah jilid 1, karya DR. Abdullah Azzam dengan tambahan
Saturday, May 16, 2015
Thursday, May 7, 2015
Tadabbur Surat Al-Furqan ayat 15
Pada surat Al-Furqan Allah berfirman,
قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚكَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا
Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?"
(QS Al-Furqan : 15)
Pada ayat ini, Allah mengatakan surga menjadi tempat kembali untuk kita. Tempat kembali maksudnya adalah sebelumnya kita pernah berada di tempat tersebut, kemudian pergi dari tempat tersebut dan akhirnya kembali lagi ke tempat tersebut.
Lalu mengapa tempat kembali ? Apakah kita pernah ke surga lalu melakukan perjalanan ke bumi ?
Ingatlah saudaraku bahwa asal mula manusia adalah dari surga, yaitu nabi Adam 'alaihissalam yang bersama Hawa berada di surga, sebelum kemudian digelincirkan oleh setan
untuk memakan pohon terlarang.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Al-Baqarah : 38)
Lalu mengapa kita akan kembali ke surga, sedangkan kita hanya keturunan beliau ?
Pada surat Al-A'raf Allah berfirman.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS Al-A'raf : 172)
Sehingga dari ayat ini, Allah menyatakan bahwa kita berasal dari tulang sulbi nabi Adam dengan fitrah bahwa sebenarnya kita islam dan kita sudah bersaksi kepada Allah
di alam ruh bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kita tidak akan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sehingga memang semua manusia asal mula adalah dari tulang sulbi Adam, sehingga sebelumnya kita berada di surga.
Maka kesimpulannya adalah fitrah manusia adalah berada di surga. Itu tempat asal dan tempat kembali kita. Kita harus berusaha untuk kembali ke surga sebagai tempat persinggahan terakhir. Sehingga dunia sebenarnya bukan tempat yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Persis seperti apa yang Rasulullah katakan,
Dari Abdullah bin Mas’ud , beliau menceritakan bahwa Rasulullah tidur di atas tikarnya. Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia. Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].
Hadits diatas mirip sekali seperti kasus dimana orang yang sedang dalam perjalanan lalu akan kembali lagi ke tempat asalnya. Maka berbekallah saudaraku dengan bekal taqwa. Karena perjalanan untuk kembali ke surga sangat berat. Terlalu banyak rintangan yang akan menghadang. Hanya orang tertentu yang dapat melewatinya.
Rasulullah juga bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini layaknya seorang asing atau penyeberang jalan.” [H.R. Al-Bukhari dari Ibnu Umar].
Sehingga saudaraku, marilah kita mengubah mindset kita bahwa dunia bukanlah tempat abadi. Ini hanya persinggahan sebentar, sangat sebentar menuju akhirat.
Dunia adalah tempat beramal, dan di akhirat tempat menuai hasil usaha kita di dunia. Maka mari bersama-sama menuju ke tempat kembali kita yang abadi di akhirat, surga.
Wallahu a'lam
قُلْ أَذَٰلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۚكَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا
Katakanlah: "Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau surga yang kekal yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?" Dia menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?"
(QS Al-Furqan : 15)
Pada ayat ini, Allah mengatakan surga menjadi tempat kembali untuk kita. Tempat kembali maksudnya adalah sebelumnya kita pernah berada di tempat tersebut, kemudian pergi dari tempat tersebut dan akhirnya kembali lagi ke tempat tersebut.
Lalu mengapa tempat kembali ? Apakah kita pernah ke surga lalu melakukan perjalanan ke bumi ?
Ingatlah saudaraku bahwa asal mula manusia adalah dari surga, yaitu nabi Adam 'alaihissalam yang bersama Hawa berada di surga, sebelum kemudian digelincirkan oleh setan
untuk memakan pohon terlarang.
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ
“Kami berfirman:"Turunlah kamu dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Al-Baqarah : 38)
Lalu mengapa kita akan kembali ke surga, sedangkan kita hanya keturunan beliau ?
Pada surat Al-A'raf Allah berfirman.
"Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS Al-A'raf : 172)
Sehingga dari ayat ini, Allah menyatakan bahwa kita berasal dari tulang sulbi nabi Adam dengan fitrah bahwa sebenarnya kita islam dan kita sudah bersaksi kepada Allah
di alam ruh bahwa Allah adalah Tuhan kita dan kita tidak akan menyekutukannya dengan sesuatu apapun. Sehingga memang semua manusia asal mula adalah dari tulang sulbi Adam, sehingga sebelumnya kita berada di surga.
Maka kesimpulannya adalah fitrah manusia adalah berada di surga. Itu tempat asal dan tempat kembali kita. Kita harus berusaha untuk kembali ke surga sebagai tempat persinggahan terakhir. Sehingga dunia sebenarnya bukan tempat yang sesungguhnya. Dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Persis seperti apa yang Rasulullah katakan,
Dari Abdullah bin Mas’ud , beliau menceritakan bahwa Rasulullah tidur di atas tikarnya. Tikar itu pun membekas di lambung beliau yang mulia. Para shahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, bagaimana jika kami buatkan kasur untukmu?” Beliau ` pun menjawab:
مَا لِى وَمَا لِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِى الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا
“Apa urusanku dengan dunia?! Tidaklah aku di dunia ini kecuali hanyalah seperti musafir yang bernaung di bawah pohon lalu pergi meninggalkannya.” [H.R. At-Tirmidzi].
Hadits diatas mirip sekali seperti kasus dimana orang yang sedang dalam perjalanan lalu akan kembali lagi ke tempat asalnya. Maka berbekallah saudaraku dengan bekal taqwa. Karena perjalanan untuk kembali ke surga sangat berat. Terlalu banyak rintangan yang akan menghadang. Hanya orang tertentu yang dapat melewatinya.
Rasulullah juga bersabda,
“Jadilah engkau di dunia ini layaknya seorang asing atau penyeberang jalan.” [H.R. Al-Bukhari dari Ibnu Umar].
Sehingga saudaraku, marilah kita mengubah mindset kita bahwa dunia bukanlah tempat abadi. Ini hanya persinggahan sebentar, sangat sebentar menuju akhirat.
Dunia adalah tempat beramal, dan di akhirat tempat menuai hasil usaha kita di dunia. Maka mari bersama-sama menuju ke tempat kembali kita yang abadi di akhirat, surga.
Wallahu a'lam
Sunday, May 3, 2015
Dilema Bank Syariah dan Perlunya Kesadaran Masyarakat Muslim
Oleh : Pak Suryanta
13 Rajab 1436 H bertepatan 2 Mei 2015
Kelas EUIS DFC 4
(Redaksi dengan beberapa tambahan)
Riba telah menjadi gaya hidup dari masyarakat. Bahkan bank syariah pun sulit menerapkan ekonomi islam secara utuh. Mengapa ?
1. Karena dampaknya tidak terasa, lihatlah betapa banyak orang yang menggunakan riba atau istilah kerennya 'bunga' tetapi akibat atau efeknya tidak terasa langsung
2. Sulit untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan keuntungan yang dijanjikan oleh bank syariah sebagai bank yang ingin menerapkan sistem ekonomo islam tidak menjanjikan keuntungan sebesar keuntungan yang dijanjikan oleh bank konvensional, sehingga orang yang 'lebih mencintai dunia' lebih memilih bank konvensional ketimbang bank syariah.
Padahal telah jelas, dalam islam riba sangat diharamkan dan betapa besarnya dosa yang akan diperoleh akibat memakan riba.
Allah Ta’ala berfirman,
الَّذِينَ يَأْكُلُونَ الرِّبَا لَا يَقُومُونَ إِلَّا كَمَا يَقُومُ الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ
“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) gila.” (QS. Al Baqarah: 275)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)
Lihatlah betapa besar dosa riba, namun karena itu dianggap sudah biasa dan menjanjikan keuntungan besar bagi para 'pecinta harta' maka orang dengan mudah melakukannya tanpa memikirkan akibatnya
Alhamdulillah kita patut bersyukur karena telah ada bank muamalat yang menginisiasi bank syariah yang berusaha menerapkan sistem ekonomi islam, begitu pula diikuti oleh bank-bank konvensional lain yang 'mensyariahkan' dirinya. Namun tetap saja, bank - bank yang berusaha menerapkan syariat islam tersebut masih belum bisa menerapkan sistem syariah secara sepenuhnya.
Hal ini dikarenakan belum banyak orang yang menggunakan bank syariah. Mengapa hal tersebut terjadi ?
1. Margin yang ditetapkan bank syariah 'lebih besar' daripada bank konvensional.
Hal ini dikarenakan masih sedikit masyarakat muslim yang menggunakan bank syariah. Karena sedikitnya masyarakat yang menggunakan bank syariah, maka omzet yang diperoleh pihak bank kecil dan mengakibatkan biaya operasi yang sangat besar. Hal ini diawali dari dana yang dihimpun masyarakat sangat kecil karena lebih sedikit yang menggunakan bank syariah.
2. Berkaitan dengan hal diatas, karena pihak bank tentunya tidak ingin rugi, maka untuk menyeimbangkan hal tersebut margin yang ditetapkan bank syariah akan lebih besar. Dan bank syariah masih menggunakan beberapa cara jual beli yang dalam islam tidak diperbolehkan.
Lalu bagaimana cara untuk mengatasi hal ini, agar bank syariah dapat 100% dapat menggunakan sistem ekonomi islam ?
1. Pencerdasan dan komitmen masyarakat di bidang syariah.
Kita perlu mencerdaskan masyarakat yang mungkin masih belum tau atau kurang peduli tentang sistem jual beli riba, walaupun memang menjanjikan keuntungan lebih dibandingkan bank syariah, namun tentunya hal tersebut akan merugikan kita di akhirat, walaupun di dunia sedikit sekali lebih menguntungkan
Perlunya mengajak masyarakat muslim dalam membangun sistem perekonomian syariah, dengan motto TAU-PAHAM-KOMITMEN
hal ini akan membuat banyaknya masyarakat muslim yang menggunakan bank syariah, dan tentunya akan membuat bank syariah dapat leluasa untuk menerapkan sistem syariah 100%
2. Unit kecil dan percontohan
Perlunya kesadaran dari sebagian warga muslim yang memiliki kepedulian tinggi dan modal besar untuk membuat unit-unit kecil sebagai percontohan atau pemrakarsa untuk menerapkan sistem ekonomi islam 100%
Alhamdulillah telah terlaksana salah satu percontohan yang benar-benar hati-hati dalam menerapkan sistem syariah islam yaitu BMT Bintaro dengan bekerja sama dengan BSM yang dibina langsung oleh satu-satunya doktor dalam bidang muamalah dari Indonesia, yaitu Ustadz Dr. Erwandi Tarmidzi.
Saat ini diperlukan BMT Bintaro dan penanam modal lainnya agar kita dapat menerapkan sistem syariah dengan baik.
"Apalah arti harta yang banyak di dunia, apabila di akhirat kita tidak mendapat apa-apa. Bangun islam dengan menguatkan pondasi ekonomi syari'ah, masyarakat sejahtera bahagia dunia dan akhirat"
Wallahu a'lam bisshawab.
Subscribe to:
Posts (Atom)